Senin, Januari 05, 2009

Sukses di balik "BALI FOOD FESTIVAL 2008"

Selamat atas telah diselenggarakannya "BALI FOOD FESTIVAL 2008"
Pemerintah kota Denpasar dalam rangka menyambut pergantian tahun ini menyelenggarakan "BALI FOOD FESTIVAL 2008". Konsep idenya bagus dan mengibur, ditengah kesibukan sehari - hari masyarakat disuguhi wisata kuliner yang sangat bervariasi dan harga sangat terjangkau. Siip !

Tetapi kegiatan ini memberikan dampak sampingan yang menurut saya patut dicermati oleh pemerintah di dalam memutuskan kebijakannya lebih lanjut.

Seperti yang terjadi di lapangan kemaren, di dalam penyelenggaraan "BALI FOOD FESTIVAL 2008" area jalan Gajah Mada dari perempatan jalan Sulawesi sampai lampu merah Catur Muka ditutup dari semua kendaraan. Jadi festival ini menggunakan badan jalan untuk perhelatan acaranya.

Apa yang terjadi ?
Lalu lintas di seputar kawasan itu . dari ujung barat jalan Gajah Mada sendiri , jalan Gunung Kawi , jalan Kartini, jalan Nakula ( Tampak Gangsul dan sekitarnya ), jalan Sumatera, jalan Hasanudin ( Suci dan sekitarnya ), jalan Veteran, Patimura dan sekitarnya mengalami kemacetan yang sangat parah .


Sumber: http://tinggarsari.files.wordpress.com/2008/01/denpasar-macet.jpg

Ini adalah fakta yang terjadi dilapangan.
Fakta ini berkaitan sangat erat dengan adanya rencana pemerintah untuk menutup secara permanen kawasan jalan Gajah Mada dan menjadi kawasan pedestrian / jalan kaki dan akan digalakkan menjadi wisata kota.
Rencana ini sudah ditindak lanjuti dengan pemasangan paving dan koral sikat pada beberapa kawasan jalan Gajah Mada, yang sampai detik ini memberikan masalah bagi pengguna jalan tersebut.
Karena paving dan koral sikat tentu tidak kuat dipergunakan sebagai perkerasan jalan raya, jadi belum beberapa lama proyek ini selesai sudah mulai muncul kerusakan disana - sini yang mengakibatkan kemacetan dan ketidak nyamanan pengguna jalan. Belum lagi masalah menyempitnya badan jalan akibat penataan taman di kiri - kanan ruas jalan Gajah Mada ini .

Kota Denpasar adalah kawasan kecil, sedari awal memang tidak didesign untuk berkembang menjadi kawasan perkotaan seperti sekarang ini. Dimana pertumbuhan jumlah kendaraan melampaui pertumbuhan jalan baru. Belum lagi keburukan pelayanan angkutan umum di kota ini yang memicu orang untuk memiliki kendaraan pribadi baik cash atau kredit, semua mudah didapat.

Dan saya amati, lalu lintas di Denpasar itu sangat sensitif sekali.
Hambatan kecil saja di pinggir jalan bisa memicu kemacetan yang ngak perlu.
Contoh, di jalan Letda Made Putra biasanya pagi jam kerja ( pagi hari ) ada gerobak sampah yang ditarik manusia melayani penduduk lingkungan situ. Menurut saya gerobak itu sudah minggir banget jalannya , tapi bisa menimbulkan kemacetan hampir 1 ( satu ) kilometer sepanjang jalan tersebut , pas masuk tikungan pertokoan udayana arah Tiara Dewata ( jarak kurang 100 meter ) lalu lintas lancar kembali.
Jadi jelas si gerobak ini biang keroknya.

Satu contoh ringan lagi, di kawasan jalan Diponegoro ada Mall Ramayana. Mall ini rutin mengadakan acara di pelataran parkir mereka yang kebetulan bisa terlihat dari pinggir jalan.
Jika mereka ngadain acara, pengguna jalan biasanya memperlambat jalannya kendaraan dengan maksud sambil cuci mata liat ada apa ?
Dan hasilnya kawasan selatan jalan itu dan sekitarnya akan macet !

Jalan di Denpasar relatif sangat sempit jika tidak mau menyebutnya seperti gang, karena terkadang hanya bisa dilalui selebar mobil aja .
Solusinya adalah memperbaiki kualitas angkutan umum di kota ini. Percuma juga buat sentral parkir tapi fasilitas penunjang lainnya seperti angkutan umum tidak ada. Jangan harap orang kita mau menaruh kendaraannya di tempat parkir terus jalan 500 meter ketempat tujuannya. Ehmm saya rasa kok mustahil ya ?? ^_^
Kasus real kan sudah ada , itu Central Parkir Kuta apa jalan ?
Ngak kan !
Kawasan itu jadi terlantar ngak sesuai dengan rencana semula.

Jadi pemerintah kalo buat kebijakan jangan hanya mengatasi permasalahan yang muncul kepermukaan saja.
Coba gali dan telusuri apa penyebab utamanya. Di Bali banyak kok pakar - pakar lingkungan. Kenapa ngak minta pendapat ( kebenaran ) dari mereka ?
Kalau pemerintah hanya mencari PEMBENARAN atas apa yang telah dilakukan ya lain lagi ceritanya , ini namanya hanya kejar proyek saja untuk kepentingan pribadi.

Jangan salahkan jika rakyat jadi apriori dan tidak ada rasa memiliki .

Kotaku malang , Kotaku sayang...


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda, mungkin bisa menjadi bahan diskusi yang bermanfaat. Terima Kasih :-)

Yang Anda Cari ADA DI SINI ?

TAHUKAH ANDA ?!

This Day in History

Quote of the Day