Kamis, Januari 08, 2009

Rabies atau RabiYes... ( again )

( Penampilan anjing yang positif Rabies )

Sepertinya kasus rabies ini semakin "mulai" meluas di kota Denpasar. Karena beberapa berita di Bali Post kembali mengangkat kecurigaan korban meninggal karena rabies , terlebih lagi salah satu surat pembaca di harian Bali Post tanggal : 6 Januari 2009 bertajuk "Mahal, Biaya Pengobatan Gigitan Anjing" yang ditulis oleh seorang korban gigitan anjing rabies yang kebetulan juga seorang mahasiswa di Fakultas Kedokteran Hewan Unud.

Memang beberapa waktu lalu pemeritah kota Denpasar melakukan kegiatan vaksinasi rabies, tapi tentu saja tidak akan bisa meng"cover" seluruh area penyebaran anjing ras maupun lokal di wilayah kota Denpasar. Mungkin jika di prosentase hanya akan mencakup sekitar kurang dari 5 ( lima ) persen wilayah penyebaran anjing di kota Denpasar saja.
Seperti tulisan saya terdahulu, orang Bali dan memeilihara anjing itu sudah seperti budaya . Hampir disetiap pekarangan rumah orang Bali pasti dengan mudah kita bisa menemukan anjing yang dipelihara penghuninya.

Kegiatan vaksinasi ini saya rasa tidak efektif dan cenderung bersifat politis , pemerintah melakukan ini hanya untuk alasan jika ditanya publik apa yang dilakukan untuk menanggulangi kasus rabies ini.
Yaa kesannya biar ada jawaban aja !

Sebenarnya saya berharap pemerintah secara menyeluruh ( karena yang kita bicarakan adalah Bali ) bersatu padu melalui dinas terkait menerapkan aturan yang pernah ada dahulu , dimana pemeliharaan terhadap anjing ras itu adalah bersifat terbatas atau bahkan dilarang sama sekali.

Apanya sih yang repot ?
Siapa yang mau dilindungi oleh pemerintah kali ini ?
Ketegasan terhadap hal yang sangat sepele tapi menyusahkan ini yang membuat saya mempertanyakan kinerja pemerintah.

Seperti posting saya terdahulu, saya juga pecinta binatang. Di rumah saya juga punya anjing dan kebiasaan memelihara anjing ini udah sejak jaman saya belum lahir , jadi anjing yang saya pelihara ini bukanlah anjing pertama bagi keluarga kami. Tapi karena sadar akan bahaya rabies dan dampaknya bagi keselamatan anggota keluarga dan lingkungan, maka sejak sedari dulu kami belum pernah untuk memelihara anjing RAS !
Kalau memang penyayang binatang, apapun bentuk binatangnya kita pasti bisa tetap merasa sayang kan ?
Ngak musti binatang ras !
Toh anjing lokal gonggongannya sama aja dengan anjing ras. Apa emangnya kalau anjing ras gonggong nya pake bahasa inggris ? Ya ngak kan...

Makanya, marilah kita melihat kepentingan yang jauh lebih besar . Jangan melihat kesenangan sesaat saja.
Terus terang saya memiliki seorang putra yang akan memasuki usia sekolah, yang artinya dia akan mulai melakukan aktifitasnya di luar rumah, saya tidak akan mungkin mengawasi dan menjaganya 24 jam.
Bagaimana jadinya jika di luar sana ada banyak anjing yang berkeliaran dan beberapa diantaranya mengidap rabies ?
Apakah kota kita akan menjadi kota yang aman dan nyaman untuk dihuni ?

Terus terang semenjak kasus rabies ini muncul , saya memiliki ketakutan yang tidak biasanya terhadap anjing liar yang saya temui di perjalanan kerja saya. Sebagai seorang yang biasa berhadapan dengan anjing ( karena saya memelihara ) bahasa tubuh dan mata binatang ini saya bisa tangkap, apakah ia takut , waspada atau siap menyerang ( galak ).

Kita sendiri saja merasa takut untuk menempati daerah tempat tinggal kita, bagaimana kita bisa ngecap sama bule - bule yang akan datang maupun yang telah datang dan mengatakan bahwa Bali adalah tempat wisata yang aman dan nyaman ??

Jika kasus ini telah meyebar luas dan menjadi wabah barulah kita "kebakaran jenggot" dan biasanya semua pihak akan saling menyalahkan.

Memang , " Penyesalan Biasanya Akan Datang Paling Akhir ! "



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda, mungkin bisa menjadi bahan diskusi yang bermanfaat. Terima Kasih :-)

Yang Anda Cari ADA DI SINI ?

TAHUKAH ANDA ?!

This Day in History

Quote of the Day